Friday, 23 November 2012

Kentut vs Pengharum Ruangan. Who Win?


Selamat malam dan selamat bermalam dimanapun kalian berada.

Posting baru setelah sempet vacuum cleaner nih. Rasanya lega sekali kaya habis pup bisa kembali ngepost.

Oke kembali ke cerita wagu. Tanpa kebanyakan kata ‘oke’ kita mulai saja ceritanya.

kejadiannya begini sore itu, untung (nama orang a.k.a temen ane) habis mampir sejenak dikos ane. Ane ngekos dan sekamar bareng udin. Catatan: ane bukan maho.

Untung adalah manusia perokok. memang selama dia dikamar ane, dia ga ngerokok. Tapi tetep aja dia perokok. Jadi aroma tubuhnya itu bau rokok pake banget. Jangan-jangan dia memakai parfum J-Lo rasa rokok djaja. Ketika untung pulang datanglah jono, selonjor sebentar. Jono juga perokok, jelas juga aroma tubuhnya bau asep rokok. Kadang gue bingung , yang ngerokok kan mulut, tapi kenapa yang bau itu tubuh ya?

Setelah semua pergi ane dan udin baru menyadari ternyata mereka meninggalkan bau rokok mereka dikamar ane. Yah mirip sama beruang yang mengencingi daerah kekuasaan mereka, mungkin untung dan jono telah mendeklarasikan kamar ane sebagai darah kekuasaannya. Jelas ane ga bakal tingggal diam.  Ane ga ingin dijajah. Ane akan memertahankan kamar ane  sekuat tenaga.

Akhirnya gue berniat untuk menyemprotkan obatnyamuk pengarum ruangan. tapi sebelum itu perut ane mulesnya gak ketulungan dan akhirnya ane kentut.
'ceess ahh..' Ane menghela nafas lega. Dengan bunyi yang ga begitu keras udin tak mendengar. Dia memang agak budeg sedikit punya masalah dalam pendengaran, terutama suara kentut.Untuk menyamarkan bau kentut yang bersuara merdu tadi.  Anepun menyemprotkan dengan dalih untuk menghilangkan bau rokok peninggalan untung dan jono.

‘ceezzzz cezzz’ bunyi penyemprot itu. Seketika itu kamar ane berubah bau menjadi lemon.
‘hmmm harumnya.’ Gue mencoba mendukung bau itu. Tapi raut wajah udin tampak ga bergembira. Dia mengerutkan dahi. Dengan wajahnya yang aneh ditambah mengerutkan dahi persis kayak kuda nil susah pup.
‘ente kentut ya?’ tenyata udin tetap ngrasa bau entut gue.
‘hehe dari tadi kale, masa baru ngrasa bau?’

Udin langsung membuka jendela sambil terbatuk-batuk. Persis kaya adegan dimana jagoan diberi bom asap, dan ane musuh yang melempar itu.
‘padahal udah disemprot pewangi ruangan, ga ngaruhh uhuk uhuk.’

Ane nyengir. Ane merasa keren. Kentut ane bisa mengalahkan pengharum ruangan rasa lemon. ini jelas sebuah kehormatan bagi kentut ane. Kentut ane meraih prestasi. Ane nyengir penuh kebanggaan.

Tuesday, 13 November 2012

Bersihkan Blog Jelek

huah lama gak ngeposting apa-apa. biasalah problem anak daerah. koneksi bak siput lagi keseleo. pelan maksimal.

ya ane tau. alasan apapun kalau kaitannya sama ngeblog harus gak bisa ditelorin di tolerir. oleh karena itu ane bertekad bakalan lebih sering bikin postingan. *dari dulu tekadnya gini terus*

oke. dimulai dari bersihkan blog jelek ini. bersihkan segala hal, mulai dari rasa malas, gelisah, lapar berkepanjangan, sampai laba-laba yang tak tau arah jalan pulang sehingga bikin sarang disini

Friday, 2 November 2012

Kepada Kamu

kepada kamu

Dengan penuh kebencian
Aku benci jatuh cinta
Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu,
tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak
selalu menebak-nebak
Aku benci deg-degan menunggu kamu online . 
Dan di saat kamu muncul, 
aku akan tiduran tengkurap, 
bantal di bawah dagu, 
lalu berpikir, 
tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, 
di seberang sana, 
bisa tertawa. 
Karena, kata orang, 
cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. 
Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, 
menghapusnya, 
memikirkan kata demi kata. 
Aku benci ketika jatuh cinta, 
semua detail yang aku ucapkan, 
katakan, 
kirimkan, 
tuliskan ke kamu menjadi penting, 
seolah-olah harus tanpa cacat, 
atau aku bisa jadi kehilangan kamu. 
Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. 
Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. 
Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? 
Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, 
atau ada maksud lain, 
atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, 
menjalar ke sekujur tubuh, 
dan aku merasa pasrah, 
gelisah. 
Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, 
tanpa harus tidur. 
Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, 
saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. 
Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, 
aku tidak bernapas, 
aku merasa canggung, 
aku ingin berlari jauh. 
Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, 
tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, 
Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,
harus dimentahkan oleh hati yang berkata, 
Jangan hiraukan logikamu.
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. 
Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, 
kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, 
bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. 
Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. 
Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; 
di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan
aku takut sendirian
oleh: Raditya Dika