Wednesday, 4 January 2012

Ciri-ciri Homo

Akhir-akhir ini aku lagi getol-getolnya nyimak stand up comedy, ada sih memang yang ga lucu, tapi yaa itukan emang udah Sunnatullah, berpasang-pasangan, ada cowo ada cewe, ada siang, ada malam. Sama kasusnya dengan yang ini, ada yang ga lucu, ya pasti ada yang lucu. Setelah aku analisa, ternyata kebanyakan dari mereka mengambil sumber lawakan mereka dari hal-hal disekitar kita yang sepertinya orang tu lupa memikirkan. Sumpah ternyata aku juga ga nyangka, hal-hal seperti itu pun bisa jadi lucu.
Itulah beberapa pendahuluan dari saya, marilah kita menuju contoh kisah lucu.

Begini kisahnya, ada makhluk namanya ABDEL (selanjutnya ditulis GUE) kaliansemua pasti tau dengan Raditya Dika, kalau ga tau silahkan "googilng di yahoo" tuk cari tau. Di salah satu stand up-nya dia pernah menyebut bahwa cowoh ada dua tipe, kalau ga bajingan, ya homo. Kalau bajingan kita ga usah bahas, kan udah ada Radith, yang kita bahas adalah homo. Dalam melakukan penelitian ini kita gunakan metode wawancara, kita akan mewancara orang yang berpenampilan sepintas seperti homo. Ketemulah orang yang bernama Mongol (dia juga artis stand up comedy). Orangnya lumayan tinggi, berkacamata, berbaju ketat ala cewek, berkalung, dan beranting di telinga kiri.
mulailah wawancaranya:

G=Gue. M= Mongol
G: "Eh Ngol, homo itu ciri-cirinya kaya apa sih?".
M: "Homo ga ada ciri-cirinya, Sob, lu bsa ketipu, lu ngliyat orang kaya homo, padahal bukan, cowonya doang yang homo."
(Sama aja dong) 
G: "Jadi bagaimana kalau kita pengen melihat atau tau orang homo dari ciri-cirinya".
M: "Susah, susah, lu harus nyelemin dia".
(Lo homo apa sungai?)
G: "Tapi ada ga yang sedikit menonjol ciri-cirinya?".
M: "Ada Sob, ni gue kasih tau ke elu, homo itu kalau lu ngliat cowo pake anting di kanan, tu homo tulen, Men".
(Gue liat mongol, pake anting di telinga kiri)
G: "Wah lu ga homo dong Ngol?".
M: "Sory Sob, gue homo, TAPI KIDAL".

kalao baca sih emang kelihatan ga lucu, aku juga merasa. coba deh kalian liat video nya di Youtube.
Kisah diatas disandur dari Stand Up-nya Bang Abdel.
http://www.youtube.com/watch?v=bcE6t_8MprY&feature=related

Tuesday, 3 January 2012

Ora Percayanan

Awal dalam cerita itu memang susah, ya sutlah.
Begini pada jaman dahulu kala ketika Uyah durung asin (Red. Garam belum asin). Aku sedang duduk-duduk jagongan sambil kanda alus bersama teman-teman, biasa antri raskin, eh antri mandi. lamaaa banget. Akhirnya peserta pertama telah keluar dari kamar mandi dengan rona wajah bahagia, mungkin dia habis shampo-an pake sunslik kali, kaya di iklannya cewek shampo-an sambil tertawa2, bahagia banget.

Aku masih termenung ngantuk menunggu giliran audisi di kamar mandi (apaan). Si peserta pertama tadi keluar kamarnya dengan rona wajah cerah ceria, nampak sekali raut wajah orang habis solat. tiba-tiba dia mendekat kepadaku, mata kita bertemu, kita saling bertukar senyum (apaan-part 2) nampak ia ingin berkata sesuatu, sumpah aku deg-degan gila (apaan.-part3). bener dia bertanya, "Tom, duwe cetutan kuku ora?". Suaranya terdengar merdu banget ditelinga, serasa terbang ke udara (apaan.-Part4).
"Neng kamar loro ana, gene kembar".

Bergegas ia menuju kamar yang dituju, sambil membawa obor ia menelusuri jalanan setapak menuju kamar dua. Singkat cerita pemotong kuku pun ia dapat, obor kembali di ambil, dan kembali ke kehidupan yang terang benderang di depan kamr mandi.

Ia langsung duduk di tepian balkon, deket tong sampah, dan langsung mengambil posisi siap memangkas sedikit kukunya yang hitam legam penuh cacing, belatung, kecoa, gajah(ngawur bgt).
Detik demi detik semua nampak normal-normal saja, namun tiba-tiba aku tergerak memperhatikannya saat ia mulai memotong kuku jempol kakinya. Ia nampak tekun memotong sisi demi sisi bagian kuku jempol kakinya, sampai tibalah bagian yang sangat krusial, pojok tepian jempol. Ia nampak "mengodek" kotoran berwarna hitam yang bersemayam disana, secara perlahan kotoran tersebut didekatkan ke hidung, "huuuuweeeeekkkkksss, ambune ndess....".

Setelah beberapa detik dia terhuyung-huyung karena bau yang ia hirup, ia tiba-tiba berkata, "ngambung meneh ah". Aku langsung nyletuk "wis ngarti mambu, tesih diambung bae kang"?.
"iyo, nek ra diambung, kayane rung mantep, gawe ketagihan, koe pengin nyicip? hahaha".
Aku termenung, dilema, akankah aku menerima tawarannya, atau menolak dengan kasar, hal inilah yang membuatku galau, pake banget. Namun akhirnya aku menolaknya, karena aku punya kotoran sendiri pikirku.

Hadehh, emang aneh manusia, sudah tau rasanya seperti itu, masih aja dicicipin, dan nampaknya aku pun sering melakukan hal itu.

Kesimpulanya: Manusia, makhluk yang ora percayanan